Pages

26 October 2012

Korupsi Jangan Di Bahas

Koruptor
Kalau komitment kuat tentang penghapusan korupsi sudah ada di benak rakyat Indonesia, jangan lagi di bahas. Lakukan tindakan, minimal dari diri sendiri. Menghujat koruptor dan mencacimakinya sudah tidak mempan. Sekarang yang penting  adalah TINDAKAN !! 

Sudah begitu banyak ulasan, istilah, analisa baik yang ilmiah maupun gaya warung kopi. Tapi korupsi masih begitu nyata dan sangat mudah di temui dimana-mana. Ini emang dasarnya sudah terlalu komplek, mulai dari sistem bentukan orde baru sampai tata budaya yang begitu permisif terhadap kelakukan korup.

Mau revolusi ?? Siapa tokoh panutan sebagai motor penggeraknya? Akankah korupsi musnah dengan revolusi ? Tidak ada jaminan. Korupsi sudah begitu menyatu dengan nafas kehidupan sehari-hari. Bukan karena orang tidak sadar atau tidak mau menghentikan korupsi, tapi tatanan sistem sudah sedemikian menyatu dengan kehidupan kita sehingga waktu melakukannya kita tidak lagi sadar bahwa kita sedang melakukan korupsi, dalam segala bentuknya.

Mulailah dari diri sendiri lalu perhatikan sekitar anda, adakah koruptor di sekitar anda ? Kalau ada, mengapa anda harus berteman dengannya ? Mengapa harus beramah-tamah dengannya ? Mengapa harus menghaturkan salam kepadanya ? Karena dia pejabat? Karena dia 'di segani' ? Omong kosong !! Koruptor adalah koruptor, cibirlah mereka, jauhi dan tinggalkan mereka dalam kehidupan sosial, bahkan keluarganya sekalipun. Mereka harus tahu bahwa anda membenci koruptor.

Lalu bagaimana memastikan seseorang itu korup ? Anda ga usah ngeles, gunakan nalar, hati nurani dan logika. Cari sebanyak mungkin keterangan mengenainya, fahami gaya bahasanya, life style nya. Sebenarnya anda tahu tapi pura-pura ga tahu.

Tapi mulai sekarang cobalah anda mengetahuinya.











10 February 2012

Ada Kata-Kata


Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada tetanggaku
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada orang seperjalanan
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada orang tuaku
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada saudaraku
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada suami/istriku
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada anak-anakku
Ada kata-kata yang hanya bisa aku katakan kepada temanku
                                     Namun ..............
Ada kata-kata yang bahkan kepada diriku sendiri aku tak sanggup mengatakannya ........



(Remembering Catherine)








14 January 2012

In Memoriam Adikku

bahkan saat matanya melihatku
tak ada apa apa lagi isinya
dia tak lagi tau arti doa
tak ingat lagi bahwa aku dan dia punya makna
ikhlaskan aku, katanya
aku titip anakku, katanya
aku titip istriku, katanya
jangan khianati aku, katanya
lalu ia tutup mata hembus nafas akhir


dan di pelabuhan pesisir itu
aku menampak sebuah biduk kecil siap-siap
mau menantang badai
mau menerjang angin
mau ke pusaran semesta









aku cuma saksi atas serangkaian kasih
setulus-tulus hati mengabdi untuk kebaikan
seberat-berat ucap di lafal
karena ini untuk kasih, katanya
maafkan kalau aku salah, katanya
karena aku cuma segini
karena aku cuma sepotonh dahan rapuh
yang waktu hendak patahpun tak lagi bisa berdoa
karena tak tau lagi makna doa
cuma satu yang bisa ia katakan
AKU TITP ANAKKU, katanya



dan.....
biduk itu kini mengarungi samudra
isinya bertiga


aku tak bisa apa apa......

24 June 2011

Indonesia (Sedang) di Hisap

“Kekuatan negara-negara penghisap didasarkan atas utang besar yang tidak mampu dibayar oleh negara-negara target penghisapan.”

Kutipan di atas saya ambil dari sebuah web http://www.koraninternet.com/webv2/lihatartikel/lihat.php?pilih=lihat&id=21554   Dengan judul Nasionalisme Ekonomi versus Rendemen Modal.

Saya hanya mengutip beberapa paragraf saja yang bagi saya begitu menyeramkan dan kendati sadar sudah lama, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, coba simak ini :

Saya kutip halaman 37 yang mengatakan : “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonom-ekonom Indonesia yang top”.

“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : … buruh murah yang melimpah…cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.”

Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Jadi kalau kita percaya John Pilger, Bradley Simpson dan Jeffry Winters, sejak tahun 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elit bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa.



Coba perhatikan kata "merancang pengambilalihan Indonesia" yang mengingatkan saya pada sebuah buku dengan judul "Sejarah Yang Digelapkan" terbitan Hasta Mitra, dimana perencanaan "pengambil alihan Indonesia" di rancang 4 tahun sebelum terjadinya G30S dan di umumkan di sebuah negara Afrika (kalau tidak keliru).

Cilakanya justru orang kita sendiri yang memberikan jalan untuk penghisapan-penghisapan yang di mulai sejak jaman orde baru / Suharto. Ini kutipannya :

WIDJOJO (Brad Simpson)
Halaman 234

AS sangat dominan mempengaruhi penyusunan undang-undang tentang investasi Indonesia. Seorang konsultan dari Van Sickle Associates yang berdomisili di Denver (yang baru saja menandatangani kontrak bagi hasil untuk pembangunan dan pengoperasian 2 perusahaan plywood) membantu ekonom Widjojo membuat undang-undang tentang penanaman modal asing. Setelah draft-nya selesai, para pejabat Indonesia mengirimkannya ke Kedubes AS di Jakarta dengan permohonan agar Kedubes AS memberikan komentar untuk “perbaikkan-perbaikan yang mencerminkan pendirian para investor AS.” Para ahli hukum dari Kementerian Luar Negeri AS mengirimkan kembali draft undang-undangnya dengan usulan baris demi baris. Mereka keberatan terhadap draft undang-undangnya karena draft tersebut memberikan terlampau banyak kewenangan kepada pemerintah (“too much discretionary authority to the government), dan karena itu merupakan hambatan buat para investor yang potensial (“discouraging to potential investors”), karena sektor BUMN diberi peluang untuk banyak bidang-bidang usaha yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan besar asing yang ingin memasuki sektor-sektor tersebut, terutama perusahaan-perusahaan ekstraktif. Widjojo mengubah undang-undang yang bersangkutan, yang disesuaikan dengan usulan-usulan dari AS, dengan menggunakan kata-kata yang akan menjamin liberalisasi yang maksimal, yang disukainya juga, tetapi sambil menyogok (placating) kaum nasionalis yang selalu waspada terhadap tanda-tanda dari tunduknya Jakarta pada tekanan-tekanan dari Barat. Episode ini mengingatkan kita dengan sangat jelas tentang struktur kekuasaan yang didiktekan oleh para pendukung resim Soeharto dalam hal keputusan-keputusan sangat penting yang dibuat oleh negara-negara merdeka.


Pada bagian akhir tulisan ada komentar Kwik Kian Gie yang secara jelas membuka fakta kebodohan seorang pejabatan negara Gita Wirjawan, Kepala BKPM yang menulis di Kompas tanggal 7 Oktober 2010 halaman 7 dengan judul “Nasionalisme Ekonomi”

Oke, sekarang kearifan apa yang bisa di ambil oleh kita??

Sejak jaman orba bahkan sebelum orba tampil di panggung politik Indonesia, sudah tampak jelas bahwa sebesar-besar kemakmuran isi Negeri sudah menjadi incaran negara besar, apakah itu Amerika, Eropa, Canada, atau Jepang. Dan lalu mereka mengatur strategi yang begitu sistematis untuk menguasainya. Polanya bukan lagi dengan menjajah seperti jaman dulu tapi dengan cara yang lebih 'cerdas' karena penjajahan sudah di larang di muka bumi.

Persoalannya anak bangsa yang duduk di puncak pimpinan, mereka yang katanya memimpin negeri untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia, terbaca oleh mereka (asing) seperti sekelompk anak kecil yang mudah di giring kemana saja. Beri mereka mainan yang mengasyikan dan semuanya beres, di suruh tanda tangan apa saja pasti mereka mau. Dan itulah kejadiannya hingga sekarang.

Bentuk-bentuk "mainan" yang di berikan oleh asing kepada para petinggi Indonesia ga gitu susah koq, wong mereka ga punya nasionalisme. Kasih harta melimpah, keamanan account bank di negeri seberang, beri kapling di negri asing. Itu dalam bentuk materi yang untuk menjaga kelanggengan kekuasaan tujuh turunan.

Yang lain, kembangkan sistem pemerintahan yang korup agar mereka asyik rebutan rejeki. Beri mereka produk-produk teknologi dan barang-barang mewah, tokh mereka hanya bisa menikmati ga akan bisa bikin. Paling banter mereka cuma bisa assembling. Maka pola hidup konsumtif menjadi gaya hidup yang menjadi tujuan setiap insan Indonesia.

Dan bila saatnya tiba, semuanya sudah matang.... bangkrutlah Indonesia. Rakyat dan segenap isi negeri ini cuma bisa bilang "saya memiliki negri"  dan ga pernah lagi bisa bilang "saya menguasani negeri" 

Pantas memang kalau pada suatu obrolan seloroh bebas, seorang kawan mengatakan : "Lebih baik tawarkan saja negeri kita untuk di jajah lagi, tapi bikin perjanjian standar kemakmuran untuk rakyat"

Trus apa gunanya kita sering teriak MERDEKA!!!





31 May 2011

Mengapa Indonesia bisa di jajah?

Si Upik yang baru kelas 2 SD aja sudah tahu bahwa Indonesia pernah di jajah oleh Belanda dan Jepang. Tapi belum pernah ada telaah mendalam tentang MENGAPA Indonesia bisa di jajah?

 Ini ada beberapa jawaban dari Yahoo Answer (tidak semua di kutip karena bahasa yang terlalu kasar)

Jawabannya beragam seperti ini :


1.
-masih bodoh
-miskin (ga bisa beli peralatan perang)
-perjuanganya masih bersifat ke daerahan
============================
2.
karena pemimpinnya terlalu XXXXXXX.(di edit karena terlalu kasar)
materi referensi:
EMANG SEKARANG UDAH MERDEKA???
============================
3.
lebih dari 300 tahun bu.....
ok lah begini mungkin krn indonesiaa saat dijajah belanda disetarakan sebagai budak dan belanda sebagai penguasa jadi sulit dan mungkin kmu taulah aku gag berani blg...
sama seperti penjawab yg pertama
============================
4.
karena senjatanya cuman bambu runcing ... ripuh !
============================
5.
Karena kepandaian Belanda dalam membaca karakter negara yg dijajahnya.
Sehingga belanda dapat menyusun strategi sedemikian rupa sehingga kekuasaannya dapat berlangsung begitu lamanya.
============================
6.
yang jelas karena terlalu lama dijajah orang2 kita terlalu santun n ramah sama bangsa asing.
hahahaha
============================
7.
1. karena orang indo bodoh dan pemalas
2. mudah disuap dan gampang jadi antek penjajah
3. nggak ngerti sama persatuan (saling menjatuhkan)
4. dll,
nb : sampai sekarangpun masih kelihatan seperti itu koq
============================
8.
Karena dulu orang indo bodoh. Sekarang mugkin uda tambah pinter dikit
============================

Saya tertarik dengan komentar no 5. Karena kepandaian Belanda dalam membaca karakter negara yg dijajahnya. Tapi kenapa sampai saat ini orang Indonesia tidak bisa membaca karakter negara lain dan "menguasainya" ?? Paling tidak menguasai bukan dalam arti menjajah.
Bangsa Indonesia cuma bisa curiga dan memuji bangsa lain tanpa berpikir bagaimana supaya bangsanya bisa sejajar.
Ada satu kata yang terlanjur sering di ungkapkan namun dalam konteks yang terlalu sempit, kata itu adalah "BUDAYA".
Mendengar/membaca kata Budaya orang hanya terfokus kepada kesenian, ritual adat, keberagaman bahasa, kuliner dan sejenisnya. Budaya jarang di interprestasikan sebagai sebuah totalitas daya hidup bangsa dari segala aspek kehidupan. Padahal, kalau kita berani jujur, kemungkinan terbesar dari MENGAPA INDONESIA BISA DI JAJAH, adalah karena faktor budaya. Tetapi untuk mengakui bahwa ada budaya-budaya (yang dalam kehidupan sehari-hari kita lakukan tanpa sadar) yang tidak layak menjadi jati diri sebuah bangsa, sangat sulit dan kita cenderung lebih baik mencurigai dan memuji bangsa lain, ketimbang mencurigai dan memuji diri sendiri.
Jadi selama tidak ada koreksi budaya dan lalu cerdik meng-implementasikannya dalam keseluruhan keberagaman Indonesia......... kita masih akan seperti ini untuk waktu yang sangat lama.

Dan koreksi ekstrimnya di pertanyakan oleh jawaban No.2 : EMANG SEKARANG UDAH MERDEKA???

19 May 2011

Ilmuwan Klaim Surga Hanyalah Dongeng

Judul di atas plek di copy persis dari sumbernya yakni Yahoo yang diambil juga dari INILAH.COM. 

Isinya seperti ini :

INILAH.COM, London - Ilmuwan nyentrik Stephen Hawking yang terkenal karena pernyataan pro dan kontranya mengklaim surga hanyalah dongeng dan tak pernah ada. Seperti apa?
Hawking menyebutkan, pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati. Merujuk ilmu pasti yang dimilikinya, Hawking menyatakan, otak berhenti bekerja ketika mati.
“Otak seperti komputer, komputer berhenti jika komponennya rusak,” ujarnya.
"Tak ada surga atau kehidupan setelah kematian bagi komputer-komputer rusak itu, lanjutnya. Surga hanyalah cerita bohong orang yang takut kegelapan," lanjutnya lagi.
Hawking menyakan, hal ini makin memperkuat teorinya mengenai semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan. Menurutnya seperti dikutip Guardian, alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya.
Sebelumnya, Hawking sangat yakin, di masa depan, manusia bisa dengan mudah pergi dari masa lalu ke masa depan atau sebaliknya menggunakan mesin waktu yang akan segera tercipta. [mor]

Lalu di komentari oleh 1.552 orang yang salah satunya dari  JoSe (sangat menarik menurut saya) sepereti ini :

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantanG mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?""Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara - perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah katayang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dinginyang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Coba anda renungkan lalu kaji dengan keheningan pikir dan hati - ANDA DI PIHAK MANA?